Animated Spinning Kunai - Naruto

Jumaat, 3 Mei 2013

faktor pembentuk pola makan daerah


Faktor Pembentuk Pola
Makan Daerah

1.1.         Pengertian Pola Makan Daerah
Pola makan daerah adalah suatu tatanan dasar untuk model makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat suatu daerah. Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, manusia memerlukan makanan dan minum yang disesuaikan dengan lingkungan daerah tempat tinggalnya.
Contoh:
    Daerah Madura banyak dikenal menghasilkan jagung sehingga makanan pokok di daerah tersebut menggunakan jagung denga lauk pauk ikan sebagai penambah gizi.
    Daerah Maluku makanan pokoknya sagu dengan lauk pauknya dipilihkan yang berprotein tinggi.
    Masyarakat daerah pegunungan banyak mengkonsumsi sayuran karena daerah banyak menghasilkan sayuran dan buah.

1.2.         Faktor Pembentuk Pola Makan Daerah
a.      faktor iklim dan musim
yaitu faktor pembentuk pola makanan daerah yang erat hubungannya dengan alam serta hasil bumi. Perbedaan tingkat kesuburan tanah dari tiap daerah mengakibatkan perbedaan pada hasil sumber daya alamnya khususnya dibidang pertanian. Hal ini berpengaruh terhadap pola makan masyarakat daerah tersebut, yang meliputi : jenis makanan, kualitas makanan, cara mengolah, dan cara menyajikannya.
Contoh:
Untuk daerah yang tandus atau  kurang subur, konsumsi makanan dimusim kemarau diolah secara sederhana dengan maksud untuk penghematan karena bahan makanan susuah didapat.
Sedangkan untuk daerah yang subur, musim kemarau tidak banyak mempengaruhi pola makan masyarakatnya. Mereka tetap bias mengkonsumsi makanan dalam jumlah dan kualitas yang sama karena sepanjang musim daerah mereka menghasilkan makanan.
Contoh menu musim panen dan musim kemarau untuk daerah yang kurang subur:
Menu musim panen
Menu musim kemarau
Nasi putih
Ayam goreng
Tempe bacem
Sayur sop
Kerupuk
Sambal + lalapan
Semangka + air putih
Nasi putih
Ikan asin goreng
Tempe penyet
Sayur bening
Air putih


b.      faktor manusia atau masyarakat
manusia atau masyarakat dalam mengkonsumsi makanannya dipengaruhi oleh kemampuan atau daya beli dan selera terhadap suatu makanan.

1.      Kemampuan atau daya beli masyarakat terhadap makanan
Kemampuan atau daya beli masyarakat terhadap makanan ikut berpengaruh pada pola makanan dari masyarakat daerah tersebut.
Contoh:
~        Masyarakat daerah subur dan tingkat ekonominya kuat akan memiliki kemampuan daya beli tinggi sehingga mereka dalam memilih pola makanannya bias lebih bervariasi, berkualitas, dan bernilai gizi tinggi.
Dibandingkan dengan masyarakat didaerah yang tandus dan tingkat ekonominya lemah sehingga kemampuan daya belinya juga rendah, mereka dalam pola makanannya kurang memperhatikan nilai gizi, dan kualitas makanan. Bagi mereka yang penting perut terisi dan kenyang.

2.      Selera masyarakat terhadap suatu makanan
Pola makanan daerah juga dipengaruhi oleh selera atau suka tidaknya masyarakat terhadap suatu makanan. Antara masyarakat daerah yang satu dengan yang lain terkadang selera makan yang berbeda.
Contoh:
~        Masyarakat daerah perkotaan cenderung lebih menyukai makanan dengan rasa manis dan gurih.
Missal: Yogyakarta yang dikenal dengan makanan yang rasanya manis sehingga hamper makanan khas dari Yogyakarta memilliki rasa manis seperti : gudeg, tahu bacem, yangko, dan lain-lain.
~        Masyarakat daerah pantai/atau pesisir, pegunungan dan pedesaan yang terbiasa hidup hemat lebih menyukai rasa makanan pedas dan asin yang bias merangsang selera makan mereka, sehingga dengan lauk dan sayur yang sedikit mereka tetap bisa makan nasi yang banyak. Dengan demikian tenaga atau energi mereka untuk bekerja dapat terpenuhi.
~        Berbeda denga masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan maupun pegunungan dengan penghasilan yang tinggi, tetapi tidak menyukai bahan makanan itu, atau mereka tetap meninggalkan atau tidk mengkonsumsinya, walaupun mam[u membelinya.
Contoh:
Masyarakat yang tidak suka atau tidak boleh makan makanan seperti: dagng, udang, ikan, durian, atau yang lain, walaupun mereka mampu membelinya, mereka tidak akan mengkonsumsinya.

c.       faktor agama dan kepercayaan
faktor agama atau kepercayaan berpengaruh besar terhadap terbentuknya pola makanan derah. Masyarakat dalam memilih makanan yang dikonsumsinya selain dengan pertimbangan daya beli denga melihat aturan yang ada dalam agama atau kepercayaan mereka. Sehingga jika ada bahan-bahan tertentu yang menurut agama mereka tidak boleh digunakan sebagai makanan maka mereka pun tidak mengkonsumsinya.
Contohnya: masyarakat yang menganut agama Islam tidak boleh mengkonsumsi makanan-makanan tertentu seperti: babi, karena hukumnya haram dan juga tidak boleh mengkonsumsi daging katak karena hewan tersebut hidup didua alam.
Berbeda halnya dengan masyarakat derah Bali yang sebagian besar menganut agama Hindu, mereka menganggap bahwa sapi adalah binatang suci sehingga pantang bagi mereka untuk mengkonsumsi daging sapi tersebut. Jadi faktor agama/kepercayaan berpengaruh pada terbentuknya pola makanan.

1.3.         Keanaekaragaman Makanan Derah
macam-macam bahan makanan yang dapat diolah menjadi makanan hingga siap dihidangkan berasal dari unsure-unsur yang dapat diperolaeh dari lingkungan tempat tinggal masyarakat itu dan sesuai dengan kebutuhan daerah tersebut. Masing-masing daerah tersebut mempunyai cirri-ciri khas masakan dan makanan kecil tertentu sesuai dengan budaya dan daerah tempat tinggal. Adapun bahan makanan yang diolah dapat berupa bahan makanan yang berasal dari nabati maupun hewani.

1.3.1.      Bahan makanan nabati
Yaitu bahan makanan yang berasl dari tumbuh-tumbuhan
Contoh:
-        Carealia/padi-padian (padi, sorgum, gandum,dll)
-        Sayuran (kol,kentang, wortel, bayam, terong, kangkung, tauge, dll)
-        Buah (papaya, mangga, ,manggis, pisang, jeruk, dll)
-        Kacang-kacangan (kacang hijau, kacang tanah, kacang kedelai, dll)
-        Umbi-umbian (singkong, kentang, ubi jalar, ganyong dll)
            Tiap –tiap daerah memiliki kondisi yang berbeda-beda sehingga hasil bercocok tanam pun tidak sama. Terkadang ada tanaman yang cocok ditanam disuatu daerah tetapi tidak dapat tumbuh dengan normal ketika ditanam didaerah lain.
Contoh: Daerah dataran rendah lebih mudah ditanami padi-padian,kacang-kacangan, dan .       umbi-umbian. Sedangkan untuk daerah-daerah pegunungan yang sejuk seperti    Tawangmangu, Kaliurang, Bandung , Malang, dan daerah pegunungan lainnya leih             mudah ditanami sayuran seperti wortel, buncis, seledri, kol, dan juga buah-buahan   seperti jeruk, apel, alpokat, dsb.
Berdasarkan kegunaanyya dalam hidangan (menurut pola menu bagi rakyat Indonesia), bahkan makanan nabati digolongkan menjadi:
a.      Golongan makanan pokok
Misal: 
-        beras untuk dibuat nasi
-        Jagung ddibuat nasi jagung
-        Singkong dibuat nasi tiwul, dsb.
b.      Golongan lauk-pauk
Misal:
-        Kacang kedelai untuk dibuat tempe, tahu
-        Kentang untuk dibuat perkedel, dsb.
c.       Golongan sayuran
Missal:
-        Bayam untuk dibuat sayur bobor, dan sayur menir
-        Kangkung untuk tumis kangkung, urapan, pecel, dll.

d.      Golongan buah
Misal:
-        Jeruk, mangga, papaya, durian, dsb.
e.      Golongan makanan kecil
Misal:
-        Singkong dapat dibuat gethuk, kripik, tape, combro
-        Pisang dibuat sale pisang, cake pisang, cara gesing, dsb.

1.3.2.      Bahan makanan hewani
Yaitu bahan makanan yang berasal dari hewan maupun hasil olahannya.
Contohnya:
a)      Daging:
-        Sapi
-        Kambing
-        Kerbau
-        Ayam
-        Itik
-        kelinci
b)      Ikan:
-        Ikan air laut (ikan tuna, tongkol, kakap)
-        Ikan air tawar (mujair, gurami, ikan mas)
c)      Telur:
-        Telur ayam
-        Telur puyuh
-        Telur bebek
-        Dsb.
Sedangkan untuk contoh hasil olahan bahan makanan hewani antara lain:
-        keju
-        sarden
-        kornet
-        trasi
-        dendeng
-        ambon, dsb.

Bahan makanan hewani dari jenis ikan laut mudah diperoleh didaerah pantai/pesisir sedangkan dikota besar yang biasanya mudah diperoleh adalah bahan makanan hewani dari jenis daging dan ikan air tawar. Untuk daerah pegunungan yang sejuk seperti Tawangmangu, Bandungan, dan puncak juga dapat dijumpai hidangan dari daging kelinci yang dapat dibuat sate kelinci disamping untuk lauk-pauk bahan makanan hewani sering juga digunakan sebagai isi dalam pembuatan makanan kecil seperti: kroket, lemper, sossis, bakpau, semar mendem, dll.
Selain bahan makanan yang beraneka ragam masing-masing daerah yang ada di Indonesia juga memiliki makanan khas daerah.
Contoh:
Masakan/makanan khas daerah tersebut diantaranya adalah :
Masakan Makanan
Asal Daerah
Megono
Tauto
Nasi lengko
Kupat glabet
Sate blengong masak
Miring udang
Gudeg
Bandeng presto
Nasi liwet
Udang galah bakar
Rawon
Rujak cingur
Karedok
Asinan
Empek-empek
Bubur tinotuan
Bebek betutu
Sate lilit
Berbalung
Sate pusut
Gangan manok
Nasi jamblang
Rending
Soto kudus
Soto sulung
Mie ongklok
Pekalongan
Pekalongan
Tegal
Tegal
Brebes
Brebes
Yogyakarta
Semarang
Solo
Cilacap
Jawa Timur
Jawa Timur
Jawa Barat
Jakarta
Palembang
Manado
Bali
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Barat
Kalimantan Timur
Cirebon
Padang
Kudus
Jawa Timur
Wonosobo


Tiada ulasan:

Catat Ulasan